L I D A H
ketika ber ucap tertulis di hati
ketika kau katakan tertoreh oleh pedang mu
tak kan terlupakan kata-kata itu
yang membuat luka yang tak bisa di jahit
yang membuat air mata tak ter tahan
yang membuat padam nya cinta kasih ku
kini kau ingat kan aku akan luka-luka itu
pedih memang ,perih memang
tak seorang pun bisa merasakan
luka di sayat sembilu
sekarang kau anggap mudah dengan ber kata ”ma’af”
bisakah kau putar waktu agar itu semua tak ter jadi??
kenapa kau ingat kan aku?? kenapa kau lukai aku??
lidah mu tak ber tuan..lidah mu bagai silet yg tajam
iyah,ku ma’afkan salah mu
iyah ku ikhlas kan kepergian mu
tapi jangan ingat kan aku akan luka-luka itu
biar kan aku menikmati kesendirian ku
relakanlah aku pergi
ikhlaskan lah aku berlalu dari kehidupan mu
tembok pun bisa bersaksi akan diri mu
memang lidah mu tajam bagai pedang
tapi hati ku kini kebal dan membeku
sekali layar terkembang pantang untuk di surutkan
sekali berjanji pantang tak di tepati
sekali melangkah pantang untuk mundur kembali
aku pergi dan tak pernah akan kembali
Share
iyah ku ikhlas kan kepergian mu
tapi jangan ingat kan aku akan luka-luka itu
biar kan aku menikmati kesendirian ku
relakanlah aku pergi
ikhlaskan lah aku berlalu dari kehidupan mu
tembok pun bisa bersaksi akan diri mu
memang lidah mu tajam bagai pedang
tapi hati ku kini kebal dan membeku
sekali layar terkembang pantang untuk di surutkan
sekali berjanji pantang tak di tepati
sekali melangkah pantang untuk mundur kembali
aku pergi dan tak pernah akan kembali
Sumber: http://www.gudangpuisi.com/
Related Post:
Puisi
BB SMANSATA
- Latihan Fitness, Berlatih Sukses
- Apakah Teknik Menulis Rewriting Merupakan Tindakan Spam?
- Simoncelli dan Wheldon perpanjang daftar kematian pebalap
- LEBAH MADU
- LUBANG HITAM
- Gerakan 28 Oktober 2011 Bukan Main-main
- Melanjutkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
- W. S. Rendra
- Chairil Anwar
- Mochtar Lubis
- Putu Wijaya
- Sitor Situmorang
- Kuantar ke Gerbang
- Di Atas Viaduct (Bandung dalam Puisi Indonesia)
- Jurnalisme dan Politik di Indonesia
- Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya
- The Coke Machine, Kebenaran Kotor di Balik Minuman Ringan Favorit Dunia
- Syukur Tiada Akhir
- Panji Tengkorak, Kebudayaan dalam Perbincangan
0 komentar:
Posting Komentar
Blog ini telah ber-status Do-Follow, jadi banyak-banyak kamu ber-komentar ya